|
Hello, you either have JavaScript turned off or an old version of Macromedia's Flash Player. Get the latest flash player. |
| Lemak, Dinikmati atau Diwaspadai |
|
Setiap Minggu menjelang pagi Ny Desy bersama suaminya menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk jalan kaki, lari-lari kecil, dan senam, hingga keringat bercucuran deras dari tubuh mereka. Setelah berolahraga, wanita itu meraba dan mencubit bagian perutnya untuk menakar seberapa banyak kandungan lemak di balik kulitnya.
Tidak akurat memang, tetapi takaran subjektif itu tetap dijadikannya sebagai patokan untuk menentukan menu keluarga selama seminggu mendataang; apakah bersikap toleran pada lemak atau menjauhi sama sekali. Bukan hanya Ny Desy yang bersikap waspada terhadap lemak. Dewasa ini, karena sebagian orang mudah gemuk akibat mengonsumsi makanan bergizi (mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral) yang tinggi, ada kecenderungan mereka menghindari konsumsi makanan berlemak.
Dalam bayangan mereka, lemak identik dengan kehadiran penyakit-penyakit degeneratif seperti tekanan darah tinggi, kolesterol, dan jantung koroner. Selain itu, bentuk tubuh tidak ideal. Industri-industri makanan pun menyambut trend itu dengan memproduksi makanan olahan berkadar lemak rendah atau bahkan tidak ada sama sekali.
Apakah lemak itu? Dari sudut ilmu izi, lemak tetaaplah merupakan zat gizi penting bagi tubuh. Ia berasal dari konsumsi makanan-makanan yang memang mengandung lemak atau bentuk protein dan karrbohidrat yang tidak termanfaatkan langsung oleh tubuh.
Merugikan jika...
Asam-asam lemak esensial yang terdapat dalam lemak merupakan komponen penting untuk membentuk berbagai hormon yang berguna di dalam tubuh. Selain itu, juga sebagai penyusun membran yang sangat penting dalam berbagai tugas metabolisme.
Selain bersumber dari suplai makanan, tubuh dapat menyintesis sendiri lemak (kecuali yang menandung asam lemak esensial), dari kelebihan karbohidrat yang dimilikinya. Di samping sebagai cadangan energi, simpanan lemak dapat berfungsi:
Meskipun banyak gunanya, kenaikan konsumsi pangan perlu kita waspadai. Tingkat konsumsi lemak yang berlebihan dapat memengaruhi kesehatan. Berbagai organisasi kesehatan menganjurkan agar tidak lebih dari 30% energi yang diperlukan manusia dikonsumsi dari lemak. Lemak pangan memang dapat memberikan masalah, tetapi tidak dapat kita tinggalkan. Lemak pangan perlu kita nikmati, meskipun harus kita waspadai. (CR)
|